Jakarta – Mataconews – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyebut bahwa di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terjadi fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan, yaitu “inflasi pengamat”.
Menurut Teddy, saat ini terlalu banyak orang yang mengaku sebagai pengamat, padahal kompetensi dan data yang mereka gunakan sering kali tidak sesuai fakta.
Apa Itu “Inflasi Pengamat” Menurut Seskab Teddy?
Teddy menjelaskan, istilah “inflasi pengamat” merujuk pada maraknya jumlah pengamat di berbagai bidang, mulai dari pengamat ras, pengamat militer, hingga pengamat luar negeri.
Namun, masalah utamanya adalah:
“Pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” tegas Teddy.
Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar pengamat tersebut sudah berusaha mempengaruhi warga dan membentuk opini publik sejak lama—bahkan sebelum Prabowo resmi menjadi presiden.
Fakta vs Opini: 96 Juta Warga Lebih Percaya Prabowo
Meskipun banyak pengamat yang gencar membangun opini tertentu, Teddy mengingatkan bahwa realitas di masyarakat berkata lain.
“Faktanya, lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo. Tidak percaya mereka. Itu adalah bukti nyata kepercayaan publik, bukan suatu asumsi,” ujarnya.
Menurutnya, angka ini menunjukkan bahwa publik tidak mudah terpengaruh oleh opini yang tidak berdasar data.
Boleh Berbeda Pendapat, Asal Jangan Bikin Cemas
Dalam pernyataannya, Seskab Teddy juga menekankan bahwa perbedaan pandangan dan kritik adalah hal yang wajar dalam demokrasi
Namun, ia mengingatkan agar semua pihak tidak membuat pernyataan yang menimbulkan kecemasan terhadap kondisi bangsa.
“Jangan sampai kita memberi statement yang mengarah pada kecemasan. Membuat orang cemas terhadap negeri ini,” pesannya.
Kesimpulan: Publik Diminta Tetap Kritis dan Tenang
Fenomena inflasi pengamat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tidak mudah percaya pada opini tanpa data. Kepercayaan publik kepada Presiden Prabowo Subianto tetap tinggi, terbukti dengan dukungan lebih dari 96 juta warga.
Yang terpenting, perbedaan pendapat harus disampaikan secara bertanggung jawab, tidak berbasis data keliru, dan tidak memicu kecemasan nasional. (A).
Bagaimana pendapat Anda soal fenomena “inflasi pengamat” ini? Apakah Anda juga merasa banyak pengamat yang datanya tidak sesuai fakta?
Tulis pendapat Anda di kolom komentar! Jangan lupa bagikan artikel ini ke media sosial agar teman-teman lain ikut bijak menyaring opini publik.
📌 Ikuti terus Mataconews untuk berita terpercaya seputar pemerintahan dan kebijakan nasional.