
Ketua RW.01, Agus Somantri, diruang kerjanya di Sekretariat balai warga. Foto : Dokumentasi pribadi AS
Era awal 80an, dan 90an, ruang kos kosan identik dengan ruang privasi, eksklusif, dan istimewa, lantaran penghuninya adalah para akademisi dari dalam maupun luar kota. Waktu itu, orang yang berstatus mahasiswa begitu sangat dihormati, selain memiliki finansial yang lumayan mapan, tetapi juga kepintaran dalam logika berpikirnya.
Seiring waktu, zaman pun berubah menyesuaikan dengan konteks sosialnya. Kini, kos kosan dihuni oleh karyawan, karyawati, dan bahkan pasangan laki laki dan perempuan. Nyanyian pun berhembus di ruang publik : “Lebih baik tinggal di kosan bulanan yang lumayan murah, daripada tinggal di hotel, atau sekedar check in di kamar hotel.
Fenomena tempat tinggal kos kosan itu, lumayan memantik perhatian publik, tak terkecuali ketertarikan seorang Agus Somantri, yang kini, menjabat Ketua RW.01, di Kelurahan Harapan mulia, Kecamatan Kemayoran, Jakarta pusat. Sebelum, mendulang kesuksesannya, ia juga adalah seorang penghuni kos di salah satu sudut kota Jakarta.
KERJA KERAS
Umumnya, publik hanya melihat buah hasil perbuatan seseorang, dan tak mau melihat dan memahami proses pencapaiannya. Bukankah setiap ruang saling terkait dan mengaitkannya. Bahwa peristiwa hari ini adalah tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan peristiwa sebelumnya, kausalitas.

Agus Somantri, di lapangan golf INDAH, Pantai Indah Kapuk, Jakarta
Perpindahan dari satu ruang fisik ke ruang fisik lainnya adalah tidak mudah. Apalagi perpindahan mentalitasnya, atau pola pikir didalamnya. Pastinya upaya yang berdarah darah, kerja keras. Jika kita pernah hidup dalam satu ruang terbatas (kos), maka bukanlah ruang kehidupan yang menentramkan jiwa, melainkan mengajak mental dan logika berpikir seseorang untuk segera keluar dari pasungan penderitaan itu.
Suka atau tidak suka, penghuni kos, akan selalu berpikir keras, bagaimana harus menutupi biaya bulanan kos, biaya makan, dan seterusnya. Pernah suatu hari, salah seorang penghuni kos, bercerita tentang kesedihan dan kepiluannya yang menyayat hati. Dirinya, harus memilih : Membeli token listrik, atau tidak makan, melupakan rasa lapar akut yang menyergap tubuhnya.
Untuk segera pindah ruang : dari ruang umum ke ruang pribadi adalah suatu hal yang yang mustahil dilakukan, jika tidak diikuti dengan kemauan kuat dan kerja keras untuk mewujudkannya. Begitulah yang dialami oleh seorang Agus Somantri.
Setelah menemukan pasangan hidupnya, mereka pindah ruang, dari ruang keluarga ke ruang privasi, menjadi penghuni kosan. Pekerjaannya sebagai seorang marketing di salah satu perusahaan, telah membawa perubahan yang lumayan sangat signifikan. Dalam pekerjaannya, ia menemukan akses terbuka yang berpotensi dapat dikelola untuk membangun masa depannya. Kemampuannya dalam berkomunikasi di ruang publik (publik speaking), memberikan banyak kesempatan untuk membangun relasi. Dan sukses.
Kemampuan berkomunikasinya itu, telah membuat dirinya menikmati perjalanan dari satu ruang ke ruang lainnya, membangun kemitraan secara profesional dalam konteks bisnis dan usaha.
Ia pun berhasil mengejawantahkan mimpinya untuk memiliki rumah sendiri, toko, dan bahkan memiliki beberapa kos kosan di Jakarta. Kini, dirinya, didaulat oleh RT RT di wilayah RW, untuk menjadi ketua RW.01, ditempat dirinya menetap. Ketika ditanyakan mengenai status barunya itu: Mengapa menerima jabatan RW. Dirinya pun menjawab sederhana : Untuk beribadah.
Mengelola wilayah ke RW an itu, tidaklah mudah. Apalagi mengelola suatu negara. Karena struktur organisasi ke RW an itu terkait dengan struktur organisasi sub ke pemerintahan setempat, seperti Kelurahan, yang notabene status quo, normatif, birokratif, dan administratif. Belum lagi struktur di dalam kewilayahannya, seperti LMK, dan RT RT. Jika struktur di dalamnya itu mumpuni dan cakap, maka program yang dicanangkan oleh ketua RW akan sesuai dan berbanding lurus. Namun, jika pengurus LMK dan pengurus RT, tidak memiliki kecakapan dalam memahami dan menjabarkan program RW, maka akan mengalami kemandulan dilapangan, dan jauh dari manfaat warga masyarakat setempat.
Dari fenomena kepemimpinan seorang RW.01, Agus Somantri, terungkap sejumlah keseriusannya untuk membangun dan mengembangkan wilayahnya, seperti upaya untuk menghidupkan kembali karang taruna unit RW 01, Kegiatan karnaval agustusan, lomba agustusan, dan pengecatan jalan jalan perkampungan.
Dan ada satu impiannya, untuk membuat podcast, sebagai suatu upaya menyelaraskan dengan program kementerian, yakni program digitalisasi. Semoga saja impiannya itu dapat terealisasi. (Aswin/mataconews).

1 thought on “Sosok Inspiratif: AGUS SOMANTRI, DARI PENGHUNI KOS, HINGGA MENJADI PEMILIK KOS KOSAN”