
Foto profil pribadi.
Antroposentris. Filsafat pusat manusia, tidak hanya menjungkir balikan filsafat agama yang diyakini oleh kaum Kristen di Eropa dan Barat, Teosentris, tetapi juga telah menjungkir balikan filsafat Heliosentris, Matahari sebagai pusat kehidupan.
Terkait dengan filsafat antroposentris, Islam lebih dekat dengannya. Hal itu, bercermin jelas dalam Surat Cinta-Nya, al Qur’an, bahwasanya alam semesta dan segala isinya diciptakan adalah untuk kepentingan Manusia di bumi. Namun, Tuhan mengingatkan agar manusia tetap beribadah kepada-Nya. Tuhan tidak meminta hasil laut dan bumi, dan seterusnya, seperti tambang, emas, nikel atau lainnya. Tuhan hanya menghimbau kepada manusia untuk beribadah kepada-Nya. Yakni, dengan pola berbuat baik kepada alam, hewan, dan sesamanya-Nya, yang juga mereka adalah ciptaan-Nya, seperti halnya juga manusia, “Tidakkah Kami ciptakan Jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya” . (Qur’an). Filsafat Teoantroposentris.
ANTROPOSENTRIS DAN DAMPAKNYA
Abad pencerahan (renaissance) di barat, telah memukul keras kedaulatan agama. Sebelumnya, agama, atau para pendeta dan ulama Gereja, begitu mendominasi kegiatan hidup banyak orang, ummat manusia di barat. Siapa yang berani mengambil sikap secara diametral dengan kelembagaan agama Kristen, akan menerima dampaknya. Dan Ilmuwan Galileo, adalah salah seorang diantaranya. Ilmuwan Galileo, dianggap telah menyesatkan umat dengan hasil temuannya, dan dihukum mati.
“The Man Measure All The Thing, demikian nyanyian digaungkan oleh kaum pencerahan intelektual. Bahwa manusia adalah pusat ukuran segala sesuatu : ukuran kebenaran dan juga ukuran kebaikan umat manusia di dunia, dan bukannya gereja, pendeta, ulama, dan termasuk Tuhan. Agama hanya memberikan racun pada kreativitas berpikir manusia, sehingga manusia menjadi fatalistik.
Namun demikian, seiring berjalannya waktu, fenomena itu, telah dikelola untuk kepentingan kelompok tertentu, dalam mengeruk keuntungan materi ansich. Apalagi jika sudah bersentuhan dengan kekuasaan, politik. Sebagaimana diketahui, politik adalah bagian – serpihan dari potret kebudayaan yang membentuknya. Namun politik, mampu mengkerdilkan kekuatan ekonomi, hukum, seni, budaya, dan seterusnya. Sehingga tidak mengherankan, jika ahli dibidang kesehatan, merasa kecewa, lantaran mereka tidak pernah masuk partai politik dan juga ikut ikutan di dalam dukung mendukung partai politik, terkena dampaknya. Kebijakan politik yang dibuat oleh penguasa, telah merugikan profesi para dokter, dan rumah sakit. Tidak hanya para ahli medis, ilmuwan, seniman, budayawan, dan seterusnya, pun tidak luput, dan ikut terkena dampak pengerdilan yang dilakukan oleh para elite politik dan penguasa.
Tragedi yang memilukan yang menimpa saudara-saudara sebangsanya dan setanah air di pulau Sumatera, Aceh, Padang, dan Medan, merupakan dampak yang mengerikan dari filsafat antroposentris : Bahwa di alam semesta ini, yang terpenting adalah manusia, bukannya pohon, hewan, dan seterusnya. Diluar Manusia, mereka semua adalah sumber pendapatan dan kekayaan diri.
Untuk memperoleh kekayaan yang akumulatif, maka mereka berusaha melakukan perselingkuhan dengan dengan partai politik dan kekuasaan. Dengan melakukan perselingkuhan itu , maka mereka akan dengan mudah memperoleh hak hak untuk mengeksploitasi kekayaan alam, baik di darat maupun di lautan, tak terkecuali merusak hutan untuk mendapatkan keuntungan kekayaan akumulatif. “Sehingga tidak mengherankan, jika Adam Smith, memberikan nyanyian yang merdu bagi kaum antroposentris gelap : “Pergi ke Timur, jalan jalan di aspali emas”.
Indonesia berduka di Pulau Sumatera. Dan (mungkin) Indonesia akan berduka ditempat lainnya, hanya tinggal menunggu waktu saja : Kemana penguasa atau kekuasaan itu akan berlabuh atau berpihak. Apakah akan berpihak kepada rakyat? Ataukah sebaliknya, berpihak kepada segelintir orang, kaum oligarki, yang mengusung Tema Antroposentris pseudo.
Penulis : Aswin, Pimpinan redaksi mataconews

1 thought on “FILSAFAT ANTROPOSENTRIS, MEMAKAN KORBAN DI PULAU SUMATERA”