
Nicholas Saputra. Begitu sapaan akrabnya di ruang publik. Sementara nama lengkapnya Nicholas Schubring Saputra. Pria kelahiran Jakarta lahir 24 Februari 1984 itu, tidak hanya dikenal sebagai seorang pemeran sutradara dan produser film berkebangsaan Indonesia, melainkan juga seorang aktivis lingkungan. Pertama kali dikenal publik luas sebagai Rangga dalam film hit tahun 2002, Ada Apa dengan Cinta?, peran yang ia ulangi dalam Ada Apa dengan Cinta? 2 pada tahun 2016. Ia telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu aktor terkemuka di Indonesia dengan dua kemenangan Penghargaan Citra untuk Aktor Terbaik sebagai karakter utama dalam film Gie karya Riri Riza pada tahun 2005 dan Aktor Pendukung Terbaik dalam film Aruna & Lidahnya karya Edwin pada tahun 2018.
BENCANA ALAM SUMATERA
Fenomena alam, seperti banjir bandang yang menerjang pulau Sumerta : Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, telah mengundang perhatian publik luas, tidak hanya publik di tanah air, melainkan juga publik internasional. Tidak hanya pejabat publik tanah air. Fenomena alam itu, juga telah mengundang keprihatinan publik luas, tak terkecuali pemain sepakbola diaspora, Calvin Verdonk, dan juga seorang aktor muda sangat potensial, Nicholas Saputra.
Sebagaimana diketahui, pemain Diaspora Calvin Verdonk, adalah seorang keturunan berdarah Aceh, dan hingga kini, dirinya belum juga menemukan leluhurnya, pasca tsunami di Aceh, tahun 2004. Pasca tsunami, dirinya telah kehilangan kontak dengan keluarganya di Aceh. Dan pada musibah banjir bandang di Aceh, 2025, telah membuat seorang Calvin Verdonk, kembali mengunggah kegelisahan dan kecemasannya. Calvin Verdonk, menyapa tanah leluhurnya itu, dengan memberikan bantuan kemanusiaan.
Berbeda dengan seorang Calvin Verdonk, aktor muda pemeran utama film Ada Apa Dengan Cinta, Nicholas Saputra, pun identik, rasa renyuh menyergap hatinya, lantaran dirinya pernah mengalami masa-masa sulit itu, pada tahun 2005, pasca tsunami. Mengalaminya sendiri sebagai aktivis lingkungan. Dan pada Musibah banjir bandang tahun 2025, telah kembali memutar rekaman lamanya di tahun 2005. Reflek. Seorang Nicholas Saputra, berusaha membangun komunikasi dengan kawan kawan aktivis yang berada dilokasi.
Realitas menunjukkan, ada suatu fragmen kehidupan yang relatif sangat sulit di nalar di zaman modern, yang serba materialistis, serba kebendaan. Atau tergerusnya nilai nilai kemanusiaan didalamnya. Nicholas, berbicara tentang bantuan senyap yang terjadi di dalam musibah itu. Yakni, tentang bantuan senyap.
Bantuan yang dilakukan secara diam-diam dan tidak terpublish. Bantuan tulus yang dilakukan korban terhadap korban lainnya. Meskipun menjadi korban, namun sang korban masih bisa membantu korban lainnya. Kita tidak heran, jika orang yang tak terkena dampak musibah membantu orang yang terkena dampak musibah. Tetapi orang yang terdampak dalam musibah itu, kemudian membantu orang yang terdampak musibah adalah hal jarang ditemukan. Apalagi bantuan itu, menyangkut persoalan jiwa. Bukankah di zaman modern, fenomena menyelamatkan diri sendiri adalah lebih penting daripada menyelamatkan orang lain, bersikap individualistik.
Terkait bantuan senyap di dalam musibah banjir bandang di pulau Sumatera itu, disampaikan sendiri oleh seorang Nicholas Saputra, dalam dialog terbuka di ruang publik, melalui media platform digital, Channel YouTube. (As/mataconews).
