“Ayo bangun, kerja bakti…! “ demikian suara pengurus wilayah tempat tinggalku memanggil manggil keluar para warganya. Kegiatan kerja bhakti itu diselenggarakan pasca hujan lebat yang mengakibatkan banjir diwilayah. Selokan tertutup oleh sampah plastik, dan telah mengakibatkan lahir dan beranak pinak, serta berkembangnya lalat lalat, nyamuk, yang dikhawatirkan akan dapat menjangkitkan penyakit diare dan demam berdarah kepada warga masyarakat diwilayahnya.
Aku pun segera beranjak dari tempat tidur, dan meninggalkan buku bacaan dan kopi hitam yang pekat didalam gelas. Jam dinding didalam kamar menunjukkan pukul enam pagi. Ternyata, sudah memakan waktu hampir dua jam didalam kamar, menikmati sebuah buku lama yang pernah diberikan oleh bapak sebagai hadiah ulang tahunku, yakni sebuah buku novel. Sebuah novel sejarah tentang pergulatan hidup bangsa Indonesia pasca kemerdekaan.
Ketika hendak pergi keluar rumah, dan meletakkan buku itu diatas rak, tiba tiba sehelai kertas jatuh dari dalam selipannya. Dan aku pun segera meraihnya, kepengen tahu tulisan apa yang ada diatas kertas putih itu, yang sudah mulai memudar warnanya menjadi kekuning kuningan.
Tertulis : “Firman, anakku! Semoga kamu senang dengan hadiah buku ini. Sebuah buku novel berkisah tentang sejarah. Bapak, meminta ma’af, lantaran belum bisa membahagiakan kamu di hari ulang tahun. Jujur, bapak kepengen sekali memberikan sesuatu yang lebih daripada hanya sebuah buku. Tetapi, belum bisa untuk mewujudkannya. Firman! Semoga kamu selalu berbuat baik dengan ibumu. Berkat dukungan ibumulah, bapak mampu bertahan hingga sekarang ini berkerja sebagai kuli bangunan. Semoga kamu dapat menjaga kesehatan kamu ya….”
Lirih. Sedih. Pilu. Itulah yang dirasakan Firman, usai membaca tulisan lawas yang telah sekian lama terselip diantara halaman buku novelnya. Dan diketahui, kertas surat yang terselip itu memasuki halaman tengah dari buku novelnya.
“Mengapa kertas surat itu diselipkan dihalaman tengah, tidak diawal halaman atau akhir halaman, “ demikian tanya Firman, kepada dirinya. Pikirannya pun berusaha mencari penjelasan dengan ajuan pertanyaan: Apakah bapak sengaja menyelipkan surat itu ditengan halaman, biar aku dapat terus berjalan meniti waktu untuk mendapatkan sesuatu dalam kehidupannya ? Apakah isi surat itu merupakan pesan simbolik?
“Man.., Firman…! “ Suara memanggil dari luar rumah. Firman, pun menjawabnya : “Iya Bu!”. Ketika hendak keluar, tiba tiba handphonenya berdering memanggil. Firman, pun segera menjawab panggilannya. Diketahui, suara panggilan itu dari seorang ketua pimpinan di organisasinya. Meminta Firman, untuk datang ke kantor sekretariat pada pukul 10 pagi ini. Sangat penting. Komunikasi pun selesai, dan handphonenya diletakkan kembali diatas meja. Dirinya, segera keluar rumah untuk melakukan kerja bhakti bersama sama warga masyarakat sekitar, hingga berakhir pada pukul sembilan pagi.
Firman, pamit kepada Pengurus wilayah setempat, dan bergegas kembali kerumah, mandi. Firman, segera mengeluarkan sebuah sepeda untuk mengelola waktu yang tersisa sekitar tiga puluh menit untuk sampai di kantor sekretariat. Kuyup. Baju kemejanya basah dibilas oleh keringat yang keluar dari dalam pori pori tubuhnya. Sebelum memasuki ruang sekretariat dan bertemu dengan ketua Pimpinan organisasi, Firman, berusaha menghapus keringat yang membasahi dahi dan sebahagian wajahnya, menggunakan sapu tangan.
“Assalamualaikum, “ Firman, mengetuk pintu rumahnya usai dari pertemuan dengan ketua Pimpinan di kantor sekretariat. Ibunya pun segera menjawabnya: “Wa alaikum
“Baru pulang Man..?
“ Iya Bu…!
“ Sudah jam sembilan malam. Kamu dari mana?
“ Biasa bu…
“ Jangan dibiasakan. Kurang bagus buat kesehatan kamu…”
Firman, hanya bisa tersenyum, mendengar apa yang disampaikan oleh ibunya mengenai kesehatannya, mengingatkan dirinya atas selembar kertas surat yang ditemukan didalam selipan bukunya. “Apakah ibu juga sudah mengetahui penyakit yang dideritanya, dan mengkhawatirkannya, “ demikian tanya Firman, pada pikirannya.
“ Bu, saya punya khabar bagus. Apakah ibu, berkenan mendengarkannya?
“ Berita bagus apa?
“ Firman, mendapatkan tawaran untuk melakukan ibadah umroh dari seorang dermawan. Semua biayanya ditanggung olehnya…
“Bagaimana menurut ibu?
“ Apakah Firman terima tawarannya…?
“ Jika kamu sudah siap lahir dan bathin, maka tak ada alasan menolaknya”
Setelah menyiapkan mie rebus dan sepiring nasi, serta segelas air putih diatas meja, ibunya segera pamit masuk ke kamar untuk beristirahat. Firman, segera melahap makanan yang telah disediakan oleh ibunya.
Usai melaksanakan shalat subuh. Firman, berusaha menjelaskan dan juga memastikan, bahwa keberangkatannya untuk melaksanakan ibadah umroh akan dilakukan pada akhir bulan ini. Mendengar hal itu, ibunya tersenyum bahagia, dan berurai air mata. Firman, hanya bisa terdiam menyaksikan peristiwa itu. Seakan Firman, sedang berusaha membaca pikiran dan perasaan ibunya, yang akan merasa kehilangan untuk beberapa hari, dan mungkin juga beberapa minggu. Membaca kegelisahan ibunya, terkait dengan kesehatan anaknya selama dalam perjalanan dan berada disana.
Menyaksikan kebahagiaan dan sekaligus kesedihan ibunya, dada Firman, terasa sesak dan tenggorokan kian terganggu, lantaran menahan tangisnya. Firman, menyadari mengenai kesehatannya. Jika menjelang dinihari, dirinya sering terjaga, lantaran mengalami sesak nafas akut. Pernapasannya mengalami sumbatan. Sangat sakit sekali rasanya. Firman, pun merasakan kecemasan menikam dalam : Apakah dirinya dapat menjaga kesehatannya, hingga kembali pulang kerumah, dan bertemu ibunya? Namun, keyakinan Firman, jauh lebih menguasai dirinya, daripada rasa cemas yang menghantuinya.
Saatnya tiba. Ibunya, mengantarkan anaknya, Firman, hingga ke bandara, melepaskan kepergian anaknya dari tanah leluhur yang melahirkannya. Isak tangis ibunya, pecah seketika. Memeluk erat Firman, anak laki laki satu satunya. Firman, pun tak kuasa menahan air matanya, dan membiarkan air matanya mengalir deras membasahi. Firman, menyadari jika ibunya akan merasa kehilangan, dan akan tinggal sendirian. Firman, khawatir jika ibunya jatuh sakit.
Pesawat terbang mengudara dan membelah langit, memisahkan antar negara, Firman dan ibunya. Pesawat udara sudah mencapai pada ketinggian, dan Firman pun merasakan gigil kedinginan. Udara dingin merangsek masuk kedalam tubuhnya, hingga menyelinap terasa kedalam tulang belulang. Firman, berusaha mengambil selimut dan membungkus tubuhnya, menghindari udara dingin dan mendapatkan kehangatannya.
Pesawat pun mendarat di bandar udara, King Abdul Aziz, Arab Saudi. Firman dan rombongan jama’ah dijemput oleh sejumlah Bus diluar halaman Bandara, untuk mengantarnya ketempat penginapan. Hotel. Firman, mendapat kamar hotel dengan isian kamar tidur untuk tiga orang
“ Mas Firman, kita shalat shubuh berjama’ah di Masjidil Haram, “ salah seorang kawan sekamar membangunkannya.
“ Sudah jam berapa mas ? “ tanya Firman.
Kawannya pun menjawab : “ Jam setengah empat pagi.
Firman pun segera bangkit dari baringnya, dan menuju kamar mandi. Mereka bertiga pun keluar dari kamar hotel, dan menuju Masjidil Haram. Salah seorang kawan lainnya bertutur, bahwa kalau kita tidak pergi lebih awal, maka kita akan mendapatkan saf diluar masjid. Tidak akan dapat masuk kedalam masjid.
Firman, segera menuju tempat pengambilan air bersuci, wudhu. Dirinya, sempat terperangkap dengan sejumlah jama’ah, yang sibuk mengumpulkan air didalam botol air mineral. Dan sempat beberapa kali meminumnya. Firman, gelisah menyaksikan fenomena yang yang terjadi disekitarnya, dan bertanya kepada salah seorang kawannya : “Mengapa mereka meminum air dari kran wudhu berkali kali, dan menyimpannya kedalam botol air mineral”. Kawannya pun menjawab sambil mengurai senyum di bibirnya : “Air yang keluar dari kran itu adalah air Zam zam”. Firman, seketika terkaget-kaget, dan segera mengambil gelas plastik yang telah disediakan, mengisinya. Meminumnya berkali kali.
Setelah mengetahui peristiwa itu, Firman, tak pernah menyia nyiakan kesempatan untuk meminum air Zam zam, setiap kali menunaikan ibadah shalat di Masjidil Haram.
Lepas Maghrib, Firman dan kedua kawannya kembali ke hotel, untuk menikmati makan malam yang telah disediakan oleh panitia Agen Travel. Terdengar suara melalui pengeras suara sound sistem, Ketua panitia rombongan jama’ah menyampaikan pesan, bahwa besok siang kita akan ke Bandara untuk kembali pulang ketanah air, Indonesia. Berita itu, seketika telah menggambarkan kerinduannya terhadap ibunya yang begitu mendalam. Pengen sekali segera mencium dan memeluk ibunya, yang telah ditinggalkannya sebatang kara dirumah. “ Ibu !, “seru Firman kedalam bathinnya, melepaskan kristal kristal bening dari kedua fiksasi bola matanya.
Pesawat udara kembali membelah langit membawa Firman dan rombongan jama’ah ketanah air. Bersatu bersama keluarganya, yang sempat terpisah selama beberapa minggu. Firman, segera membawa barang barang bawaannya keluar dari bandara. Dan didepan pintu luar, tampak ibunya melambai lambaikan tangannya, memanggilnya. Firman pun segera mengaminkan panggilan ibunya. Ibunya, sempat memperhatikan anaknya, yang telah mengalami perubahan, berat badannya bertambah dan pipinnya terlihat segar dan sekal. Mata ibunya pun berbinar binar memancarkan kebahagiaan
Setelah menunaikan ibadah umroh, Firman, tak lagi mengalami gangguan pernapasan. Pulih kesehatannya. Tidak hnya kesehatan fisik yang telah pulih, melainkan juga imannya pun kembali dipulihkan, lantaran menyaksikan fenomena fenomena spiritual selama dirinya melaksanakan ibadah umroh, terutama saat melakukan tawaf, mengelilingi Ka’bah.
Penulis adalah seorang freelance writer, Content Kreator, dan kini, aktif di Komunitas Masyarakat Sastra Jakarta
