Seperti biasanya, Rakhmat, melakukan aktifitasnya sehari hari, terutama saat berangkat kerja menggunakan angkutan publik. Dirinya, benar benar menikmati kendaraan angkutan publik itu. Memberikan pengalaman baru. Didalam angkutan publik itu, dirinya dapat bersentuhan dengan banyak orang dengan latar belakang sosial-ekonomi, dan agama yang berbeda.
Sebenarnya, Rakhmat, terpaksa menggunakan alat transportasi umum itu, lantaran tak mampu lagi menggunakan kendaraan pribadi miliknya, kendaraan bermotor. Dikarenakan pergelangan tangannya, terserang keram. Pernah suatu hari, dirinya mengalami pengalaman yang mengerikan saat mengendarai kendaraan bermotornya di jalan raya. Dirinya, menarik gas untuk memacu kendaraannya, dan tali gas yang ia tarik itu tak bisa dikembalikan secara normal, sehingga membuat dirinya memutuskan membuang kendaraan bermotornya ke sebelah kiri bahu jalan yang dipenuhi dengan pepohonan. Kendaraannya pun menabrak pohon itu, dan dirinya tak sadarkan diri. Pingsan.
Baca juga : Kisah inspiratif, Giyanto Subagio, penyair dari Kemayoran
Setelah peristiwa itu, Rekaman, memutuskan untuk menggunakan kendaraan publik. Dan tentu saja ia, harus belajar menerima suasana baru untuk dapat memahami dan menghargai, serta menyesuaikan dirinya dengan banyak individu didalamnya, berdesak-desakan dengan para penumpang lainnya, yang juga sama sama memburu waktu. Terbayang pada dirinya, jika telah sampai di kantor, maka ia akan menerima konsekwensi aturan perusahaan yang telah diterapkan, yakni di potong kerjanya sebagai marketing eksekutif.
Memasuki akhir pekan, Rakhmad, sengaja bangun pagi lebih awal, lantaran ingin menikmati waktu senggangnya disalah satu tempat yang penuh dengan taman dan pepohonan. Suatu tempat yang dijadikan sebagai destinasi wisata di Jakarta. Tak peduli dengan dengan gonta ganti kendaraan tujuan dan menyeberangi jembatan jalan. Semangat akhir pekannya, telah mengalahkan rasa lelah saat menggunakan kendaraan publik itu. Rakhmat, benar benar menikmati akhir pekannya dengan suka cita, usai rutinitas aktifitasnya sehari hari di kantor yang menguras energi fisik dan pikiran selama lima hari dalam seminggu.
Ketika angkutan publik itu berhenti di salah satu halte, terlihat seorang ibu membawa anak anaknya, lelaki dan perempuan, berusia sekitar empat hingga lima tahunan. Dan sang ibu, menempati kursi kosong yang berada disebelah kursi yang tengah saya duduki. Salah seorang anaknya, seorang perempuan berambut panjang dan ikal pekat hitam dan berkulit putih itu, selalu saja membunyikan kata kata dari lisannya, setiap menemukan tulisan yang berada didepan matannya sepanjang jalan.
“Rumah makan Padang, “demikian ia membunyikannya, dengan suara yang keras, hingga terdengar oleh para penumpang didalam bus. Ibunya pun hanya bisa tersenyum memandangi anak perempuannya itu, yang sudah mulai rajin membaca setiap huruf yang ditemuinya. Mungkin ibunya, merasa bahagia dan tak sia sia sia akan usaha perjuangannya memberikan les membaca dan menulis kepada anaknya itu, sehingga buahnya dapat membaca setiap tulisan yang terpampang didepan matanya. Ibunya, memeluk dan mengusap rambutnya, dan mencium kening dan pipinya yang memiliki lesung pipit.
“Kita hampir sampai, siap siap ya… , “ Ibunya, segera mengingatkan kepada kedua anaknya dengan lembut dan penuh perhatian.
Rakhmat, hanya bisa tersenyum menyaksikan peristiwa yang terjadi di dalam bus itu, terutama sekali pada anak perempuan yang mengurai senyum dengan lesung pipinya yang mengembang kedalam menghiasi wajahnya yang putih bersih dan kemerah merahan.
Ternyata, peristiwa yang terjadi di dalam kendaraan itu, mampu memberikan pesan dan kesan yang mendalam bagi seorang Rakhmad. Seakan dirinya, tidak mempercayai bahwa peristiwa itu telah memberikan pencerahan dalam hidupnya, dan mampu merubah sikapnya dalam memberikan suatu pandangan. Ia berusaha untuk belajar memahami peristiwa yang terjadi dengan menggunakan akal sehat dan bukan dengan sakwasangka.
Sebuah pesan terdengar dari sound bus, mengingatkan, bahwa sebentar lagi bus akan sampai pada halte pemberhentian. Dan Rakhmat pun segera bersikap dan bersiap untuk turun.
Tidak jauh dari halte pemberhentian bus, terdapat sebuah warung kecil di bahu pinggir jalan. Rakhmat pun segera melipir masuk dan memesan kopi hitam. Dirinya, segera mengambil sebungkus rokok kretek yang berada dalam saku celananya, hanya tersisa lima batang. Dan membakarnya sebatang rokok itu. Dihisapnya dengan dalam dalam rokok kretek itu. Kemudian melepaskan asapnya ke udara. Tergambar seorang anak perempuan kecil yang di dalam bus sedang membaca setiap kata dan nama yang terlihat oleh pandangannya. Perempuan kecil itu, ternyata mampu memberikan kesan yang mendapat bagi seorang Rakhmat, terutama tentang kegelisahan yang ada dalam pikirannya.
“Mas, kopinya, “ demikian seorang pelayan mengantarkan pesanan kopinya. “Terimakasih ya, mbak, “ sahut Rakhmat.
Rakhmat pun segera mengangkat segelas kopi dari tempat tatakannya. Kemudian menyeruputnya pelan pelan.
Penulis: Aswin
