Mataconews – Jakarta. Diskusi sastra bertajuk “Peran Penerbit Indie dalam Sastra Indonesia” yang digelar Jumat (27/3/2026) di PDS HB Jassin menyoroti peran krusial penerbit independen (indie). Acara yang diselenggarakan oleh Dapur Sastra Jakarta (DSJ) ini mengungkap bahwa penerbit indie saat ini lebih fokus pada strategi bertahan hidup dan membangun pasar, daripada sekadar misi pencerahan publik ?
Kegiatan Diskusi Meja Panjang, yang merupakan program rutin bulanan DSJ, menghadirkan sejumlah narasumber kompeten. Mereka adalah Kurniawan Djunaedi (Penerbit KKK), Remmy Novaris DM (Teras Budaya Jakarta), dan Muhammad Mujib Hermani (Penerbit MELIBAS). Diskusi dipandu oleh aktivis literasi, Ewith Bahar.
Menurut Remmy Novaris, kegiatan diskusi yang sudah berlangsung empat tahun sejak 2022 ini bertujuan untuk memetakan tantangan nyata yang dihadapi para pelaku industri kreatif, khususnya di ranah perbukuan.
Penerbit Indie: Antara Kebebasan Kreatif dan Realitas Pasar
Diskusi mengupas tuntas perbedaan mendasar antara penerbit indie dan penerbit besar (mayor) seperti Gramedia. Penerbit indie disebut sebagai usaha skala kecil dengan tim terbatas yang bekerja secara mandiri. Mereka biasanya mencetak buku dalam jumlah terbatas atau sistem print on demand (POD).
Keuntungan utama penerbit indie terletak pada kebebasan yang diberikan kepada penulis, baik dari segi isi, desain, hingga harga, serta proses terbit yang lebih cepat dan tidak terlalu selektif. Namun, tantangan terbesar terletak pada sisi pemasaran. Promosi sangat bergantung pada kemampuan penulis itu sendiri.
Baca juga: Peluncuran Buku Jakarta Menyala, Sepi Pemirsanya
“Membangun pasar di Indonesia itu rumit dan sulit. Kita bergeser dari masyarakat agraris ke industrialis berbasis teknologi digital. Masuk ke ruang industri berarti tuntutan modal menjadi yang utama. Membangun pasar hingga ke pelosok Nusantara tidak mudah dan tidak murah,” ungkap salah satu pembicara.
Dampak dari kondisi ini sangat terasa pada harga jual buku. Buku dengan harga mahal sulit dijangkau masyarakat kelas bawah. Ditambah lagi dengan rendahnya minat baca dan literasi bangsa Indonesia yang disebut lebih tertarik pada konten visual dan pencitraan.
Upaya Pencerahan dan Pemberdayaan Ekonomi Kreatif
Di tengah kesulitan membangun pasar, sejumlah penerbit indie tetap berupaya melakukan pencerahan. Remmy Novaris dari Teras Budaya Jakarta menjalankan program festival lomba penulisan sastra dengan menerbitkan buku pemenang secara gratis. Sementara itu, Mujib Hermani dari MELIBAS fokus pada pemberdayaan ekonomi penulis.
“Kami melakukan posisi tawar dengan penerbit besar seperti Gramedia. Ini untuk melindungi dan memberdayakan ekonomi penulis serta penerbit demi keberlangsungan hidup ke depan,” jelas Mujib mengenai strategi negosiasi yang ia lakukan.
Hilirisasi Digital: Peluang Baru bagi Penerbit Indie

Pergeseran nilai akibat gelombang teknologi industri mendorong akselerasi menuju ruang digital. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang mengedepankan hilirisasi digitalisasi di semua sektor ekonomi membawa konsekuensi sekaligus peluang bagi penulis dan penerbit lokal.
Dalam konteks digital, hilirisasi diartikan sebagai proses mengolah data, talenta, dan teknologi untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi yang besar, bukan hanya sekadar menjadi pengguna teknologi.
Menanggapi peluang ini, salah seorang peserta diskusi, Ramses, memberikan saran strategis. Ia mengusulkan agar penerbit indie segera membangun website khusus untuk katalog buku dan karya. “Dengan website, publik lebih mudah mengakses data dan karya penulis. Tidak hanya itu, pemilik website juga bisa mendapat pendapatan tambahan dari hasil klik pencarian pasar di websitenya,” ujar Ramses.
Kurangnya Regenerasi

Meski diskusi berlangsung hangat yang diawali dengan pembacaan puisi dan cerpen oleh Marina Novianti, Eka Kartika Halim, dan Herman Syahara, kegiatan ini mendapat sorotan terkait minimnya partisipasi generasi muda. Kehadiran remaja dan anak muda sebagai penerus sastra dan literasi di Indonesia dinilai masih kurang mendapat perhatian. (A).