MATACONEWS – JAKARTA. “Hari ini kita tidak sekedar bicara tentang ekonomi syariah sebagai sebuah sektor, kita bicara tentang arah ekonomi Indonesia ke depan, “demikian ungkap Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Acara diskusi Ekonomi Syariah di Indonesia. Kegiatan tersebut, diselenggarakan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia.
Belajar Dari Jerman : Prinsip Syariah Tanpa Label
Purbaya, memberikan pengalaman dan pencerahan kepada publik, terutama pelaku bisnis dan ekonomi syariah, terkait kunjungannya ke pelbagai negara di dunia, termasuk di Jerman, dalam mempelajari ekonomi syariah. Dan pengalamannya itu, membuat seorang Purbaya terkesima, lantaran bukan negara yang mayoritas Islam penduduknya.
Menteri Keuangan itu, berharap besar kita ingin melihat ekonomi syariah kedepan berkembang, betul-betul berkembang. Kita negara Islam penduduknya nomor satu di dunia. Karenanya pusat syariah bukan di Jakarta, ada di London, ada di Hongkong, kadang-kadang Singapura juga ingin jadi pusat ekonomi syariah, syariah finansial. Purbaya sempat membuat pertanyaan sederhana : Apakah ekonomi syariah akan menjadi pelengkap atau jadi pemain utama. Bagi pemerintah jawabannya jelas, ekonomi syariah adalah bagian dari strategi besar pembangunan sejajar dengan ekonomi hijau dan ekonomi digital.
Baca juga: Anak buah Purbaya terjaring OTT KPK
Tapi yang jelas kita ingin melihat ekonomi syariah kedepan berkembang, betul-betul berkembang. Kita negara Islam penduduknya nomor satu di dunia kan dari presentasinya. Tapi yang buat pusat syariah bukan di Jakarta, ada di London, ada di Hongkong, kadang-kadang Singapura juga ingin jadi pusat ekonomi syariah, syariah finansial.
syari’ah : Antara Potensi Dan
Kita ketinggalan sekali dalam hal itu. Pertanyaannya sederhana apakah ekonomi syariah akan menjadi pelengkap atau jadi pemain utama, kira-kira gitu ya. Bagi pemerintah jawabannya jelas, ekonomi syariah adalah bagian dari strategi besar pembangunan sejajar dengan ekonomi hijau dan ekonomi digital.
Menteri keuangan, Purbaya, sempat menceritakan pengalamannya selama menjadi staf khusus koordinator perekonomian Hatta Rajasa: “Saya ngomong apa adanya. Saya selalu melihat kita ekonomi islam besar, tapi keberpihakan kepada ekonomi syariah hampir tidak ada sebetulnya. Kalau waktu saya jadi staf khusus Pak Hatta Raja, ada tuh kadang-kadang di akhir data ekonomi, saya coba masukin ekonomi syariah, selalu nggak dibaca. Saya bingung kenapa nggak dibaca “.
Singgung Menteri Agama : Jangan Hanya Pakai Nama
“Kita umatnya besar, tapi kebanyakan diem. Harusnya Pak Menteri Agama baru mengajak saya jadi apa, apa semacam perkumpulan cendekia Islam, Muslim. Saya ikut, saya bilang saya bantu kalau Bapak mau betul-betul bangun ekonomi syariah. Tapi kalau Bapak cuma pake nama-namanya aja, saya nggak ikut. Artinya gini, kalau bangun, bangun betul, kita ini syariah bukan hanya istilahnya, tapi praktek syariah, betul-betul syariah. Anda punya bank apa sekarang? Syarihan? Bank syariah apa? BSI dan lain-lain, “ Menteri Purbaya, singgung Menteri Agama.
Purbaya, dengan semangat kembali menceritakan semasa di Jerman : “Saya pada tahun 2012 datang ke Jerman, ketemu Bundesbank, orang beneran di sana, think tank-nya. Di Bundesbank dia bilang sistem kami dibangun gara-gara peristiwa di Indonesia. Jadi kalau anda melihat prinsip syariah yang jalan itu di Jerman. Kalau saya nggak di tiba-tiba melihat ya, tapi kayaknya betul. Karena saya lihat struktur industri juga didukung oleh UMKM yang sama bisnisnya seperti itu. Kalau Jerman saja yang dianggap yang negara dengan struktur terkuat menjalankan prinsip yang sebenarnya syariah, kata Bank Sentral itu. Harusnya kita juga bisa, instead of kita pakai istilah-istilah syariah tapi bunganya tinggi, kita bergerak ke arah sana.
“Indonesia punya posisi strategis bukan hanya karena populasi muslim yang besar, tapi karena kita didominasi generasi muda dan terdidik. Penduduk besar adalah potensial tapi hanya menjadi kekuatan jika berkualitas. Kita punya bank pertama, bank syariah apa? Bank Muamalat, pengelolaan orang Islam, yang minjam orang Islam, hampir bangkrut kan. Saya kepala LPS jadi saya tahu kondisi banknya itu. Yang gak jelek tapi gak bagus-bagus amat. Harusnya dengan fondasi customer base yang besar, dia harusnya merajai di sini. Jadi kita mesti berhitung ulang tentang cara kita menjalankan praktek-praktek syariah di bank-bank syariah juga, “demikian tutur Purbaya berbagi pengalamannya.
Kritik Moody’s : Jangan Remehkan Pondasi Ekonomi Indonesia
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Indonesia sejak September 2025, dikenal dengan gaya bicara blak-blakan yang sering menyentil isu ekonomi, tak terkecuali pernyataannya tentang kedatangan mudis. “Saya heran kemarin sebelum angkanya keluar, Moody’s datang ke Indonesia dan merevisi ke bawah outlook dari ekonomi Indonesia jadi negatif. Untuk saya dia offside, dia pikir ekonomi akan melambat terus ke depan dan kebijakan saya nggak berhasil, kebijakan Indonesia nggak berhasil. Ini baru awal kita akan bergerak makin cepat, makin cepat. Kalau kita lihat IMF upgrade prediksi pertumbuhan tahun ini dari 4 ke 9 ke 5 2, JP Morgan melakukan hal yang sama, yang lain pun akan melakukan hal yang sama. Kalau gitu resikonya bukan ke bawah tapi ke atas. Saya pikir Mudis offside. Jadi anda jangan takut dengan Mudis dan lain-lain, kita betul-betul memperbaiki fondasi pertumbuhan ekonomi kita secara serius, “ujar Purbaya, meyakinkan publik tanah air, terutama para penggiat dan pelaku ekonomi nasional. (A)
