Pak Ilham, begitu menikmati waktu akhir pekannya, bersama istri dan anaknya dirumah. Secangkir kopi panas telah tersedia diatas meja teras depan rumah, menemani sebuah buku baru yang telah dibelinya melalui jasa penjualan online.
Pagi itu, pak Ilham, tampak begitu serius dan fokus memandangi ruang terbuka yang berada didepan rumahnya. Suatu ruang terbuka yang pernah digelutinya semasa menjalani masa kanak kanak. Diruangan terbuka itu, dirinya pernah melakukan permainan galasin dan gasingan. Permainan permainan yang menuntut konsentrasi pikiran dan juga keterampilan fisik. Diruang publik itu juga, warga masyarakat sekitar secara terbuka dapat langsung menyaksikannya. Warga masyarakat dapat mengungkapkan emosinya, memberikan semangat kepada para pemain. Dan terkadang suara tawa pun pecah seketika mengisi ruang, saat salah seorang pemain terjatuh dan masuk kedalam selokan air untuk menghindari sergapan lawan mainnya.
Terurai senyum. Pak Ilham, hanya bisa tersenyum lepas mengingat masa kanak kanaknya itu. Kini zamannya sudah berubah. Ruang bermain semasa kanak kanaknya itu telah mengalami perubahan menyesuaikan dengan irama zaman. Selokan dengan air yang jernih mengalir didalamnya, telah ditutup rapat dengan kerangka coran beton. Pohon kelapa dan pohon jambu yang tumbuh subur disekitar ruangan itu pun telah tiada wujudnya, dan telah berubah menjadi pohon pohon beton tempat tempat penjualan smartphone, pulsa, dan pembayaran digital, serta beragam kuliner asing. Sepanjang jalan publik terpapar jelas dan kentara dengan pelbagai jenis merek kendaraan bermotor berparkiran, memakan sebahagian badan jalan milik publik.
Pernah suatu hari, pak Ilham, sempat menyaksikan tragedi kemanusiaan yang terjadi diruang publik itu. Dirinya, menyaksikam sebuah kendaraan mobil umum mengalami kesulitan untuk menembus badan jalan perkampungan untuk menjemput pelanggannya, lantaran dibagian sisi kiri dan sisi kanan bahu badan jalan publik telah digunakan untuk tempat pakiran sejumlah kendaraan bermotor milik pribadi. Dan motor motor yang terpakir disepanjang badan jalan itu pun terkunci setangnya, sehingga sulit sekali untuk digeser dan dipindahkan dari tempatnya untuk keperluan. Diketahui, pengguna kendaraan publik itu dengan rasa kecewa dan mengumpat, terpaksa harus berjalan bersusah payah memapah orangtuanya yang sedang sakit berat. Belum sempat mobil taksi keluar meninggalkan ruang badan jalan, orantua pengguna kendaraan itu telah meninggal dunia. Meninggal didalam mobil. Anaknya pun berteriak histeris memecah suasana perkampungan. Warga masyarakat berseliweran keluar rumah untuk mengetahui, dan memberikan bantuan, tak terkecuali para pemilik kendaraan bermotor yang sembarangan parkir dijalan umum.
Tiba tiba saja terdengar suara getaran dari smarphonenya pak Ilham, dengan ukuran layar 6 inchi diatas mejanya. Suara panggilan. Ia hanya bisa memandanginya, dan tak segera menjawab panggilan melalui benda canggih tersebut, hingga smartphonnya pun padam dengan sendirinya. Namun, pandangannya tetap saja mengarah pada alat teknologi canggih tersebut, seakan dirinya sedang serius dan mengikuti pelbagai peristiwa yang terjadi didalamnya. Refleksi zaman. Globalisasi dengan teknologi komunikasi dan informasi itu, telah berhasil merenggut ruang ruang sosial, kebersamaan dan keakraban. Ruang sosial telah diurai dan dipecahkan menjadi bagian bagian yang terkecil dan terpisah satu sama lainnya. Menjadi pribadi pribadi yang individualistik.
Pak Ilham, terlihat mengerutkan dahi dan menggeleng gelengkan kepalanya atas perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi yang berhasil diperoleh oleh manusia modern. Suatu achievment. Bagaimana sebuah teknologi kecil dalam genggamannya itu, telah berhasil memindahkan ruang permainan manual menjadi permainan digital. Games online. Warga masyarakat pun dengan mudah dapat menentukan waktu dan permainan yang sesuai selera dan keinginannya. Pelbagai permainan pilihan tersedia dan dengan mudah diaksenya. Waktunya pun bisa diakses dua puluh empat jam-sehari, bisa bermain pagi hari, sore hari, malam hari, dan bahkan hingga dinihari, dengan syarat memiliki paket data internet untuk mengaksesnya.
Suara dari dalam rumah, telah membuat pak Ilham, menggeser kekagumannya pada teknologi canggih genggaman itu. Dirinya, berusaha menggeserkan kedua daun telinganya untuk dapat mengkases percakapan peristiwa. Ia berusaha keras dan fokus mengarahkan kedua telinganya, agar dapat menyerap gelombang suara percakapan yang terjadi dari dalam rumahnya. Percakapan antara istri dan anaknya, Syahdan.
“Kamu kenapa Dan… Ibu saksikan beberapa hari ini, kamu lebih banyak diam dan sering melamun, ” tanya ibunya lembut kepada anaknya, Syahdan. Ibunya, berharap segera mendapatkan jawaban dari Syahdan. Namun harapan ibunya itu, menguap hilang ke udara dan sia sia saja. Syahdan, tetap saja membisu, dan tak tergugah menjawab pertanyaan. Ibunya pun tersergap rasa penasaran dan gelisah menyaksikan fenomena perilaku anak laki satu satunya itu. Sudah beberapa hari, ibunya diam diam mengamati perilaku anaknya yang mengalami perubahan, menjadi seorang yang pendiam dan sering murung, seperti kehilangan gairah hidup.
Syahdan, segera mengambil kunci motor dan pergi berangkat keluar rumah menuju tempat kerjanya. Tanpa pamit dan juga mencium tangan kedua orangtuanya. Pak Ilham dan ibunya, hanya bisa terdiam dan memandangnya menukik kedalam bathin, berupaya menelusuri perjalanan hidupnya, kalau ada kekeliruan yang mereka perbuat, sehingga anaknya yang harus menanggung kesalahan yang diperbuatnya.
Menyaksikan perilaku anaknya yang telah berubah itu, wajah pak Ilham dan istrinya, seketika kehilangan garis warna cerah hidupnya, seperti mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya. Latifah, pun segera menghempaskan tubunya diatas kursi, disebelah suaminya. Menghela nafas panjang.
“Kenapa bu, ” sapa suaminya dengan lembut kepada istrinya, Ifah. “Tidak apa apa pak, ” jawab Ifah, berusaha menenangkan suaminya, Ilham, yang sedang menikmati waktu libur akhir pekannya. “Ibu sakit… ?””Tidak pak. Ibu baik baik saja… “”Bapak buatkan teh manis panas ya bu… .?””Tidak usah pak… .
Khawatir disalahkan suaminya, lantaran kelak suaminya akan mengetahuinya. Latifah pun berusaha tenang menceritakan tentang perilaku anaknya, Syahdan, kepada Ilham, suaminya. Diceritakannya, bahwa Syahdan, sudah beberapa hari mengalami perubahan. Sikapnya, sangat memgkhawatirkan, lantaran Syahdan, lebih banyak diam dan menyendiri. Tidak mau terbuka memceritakan persoalan yang dideranya.
“Ibu, takut pak, ” cemas Latifah.
Pak Ilham, berusaha menyimak setiap bahasa dan peristiwa yang diceritakan oleh istrinya, Latifah, seakan sedang berusaha mencerna untuk dapat mengurai persoalan dan mencari jalan keluarnya.
“Ibu, minum dulu ya… , “Ilham, berusaha menenangkan dan mengusir rasa cemas yang menghigapi istrinya
“Ada yang menyampaikan informasi kepada ibu mengenai perilaku Syahdan, ” tukas Latifah. “Berita tentang apa bu, ” tanya Ilham, kepada istrinya, terganggu dan kepengen tahu.
Tiba tiba saja mulut Latifah, terkunci rapat. Dan sulit membuka kembali suaranya, lantaran khawatir membuat suaminya akan kembali sakit.
“Katakan… Cepat katakan bu !” Ilham, memohon dengan sangat kepada istrinya, agar berkenan menceritakan persoalan yang sedang dialami oleh anaknya, Syahdan.
“Syahdan adalah masa depan kita bu.., ” Ilham, berusaha meyakinkan
Perlahan dan pasti, Latifah pun membuka bibirnya dan mengatakan kepada suami yang dicintainya, Ilham.
“Syahdan, telah kecanduan bermain slot judi online pak… Uang cicilan motor dan uang hasil kerjanya, telah habis digunakan untuk bermain judi online…
Penulis : Aswin. Penulis lepas dan konten kreator. Kini, aktif di Komunitas Masyarakat Sastra Jakarta

2 thoughts on “SYAHDAN”