MATACONEWS –Depok, 14 Februari 2026 – Suasana haru dan penuh semangat menyelimuti upacara wisuda Universitas Indonesia (UI) yang digelar pada Sabtu, 14 Februari 2026. Acara bergengsi di kampus Depok, Jawa Barat ini terasa spesial dengan kehadiran Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa. Bukan hanya sebagai orang tua wisudawan, Purbaya juga menyampaikan orasi ilmiah yang menginspirasi ribuan wisudawan, profesor, dan mahasiswa tentang ekonomi kebangsaan, perjuangan orang tua, serta pentingnya berpikir holistik.
Hening dan Haru: Momen Penghormatan untuk Orang Tua
Dalam pidatonya, Menteri lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyentil sisi emosional para lulusan. Ia mengingatkan bahwa gelar sarjana yang diperoleh bukan semata-mata hasil kerja keras pribadi, melainkan buah dari perjuangan tanpa lelah orang tua di rumah.
“Kalian mungkin merasa hari ini adalah hasil kerja keras kalian selama bertahun-tahun. Namun, di balik itu semua, ada perjuangan orang tua yang mungkin terlupakan. Mereka mencari nafkah tanpa lelah, banting tulang, mati-matian dari kepala jadi kaki, kaki jadi kepala untuk membiayai sekolah Anda,” ujar Purbaya dengan nada dalam.
Momen semakin haru ketika pria yang juga menjabat sebagai bendahara negara itu meminta seluruh wisudawan dan wisudawati untuk berdiri dan memberikan hormat kepada orang tua masing-masing. “Karena usaha dan doa merekalah, kalian semua ada di posisi sekarang, lulus dari Universitas Indonesia,” tegasnya.
Pesan untuk Mahasiswa: Jangan Demo, Belajar yang Sungguh-sungguh
Menyikapi dinamika politik kebangsaan, Menteri Purbaya juga menyinggung fenomena mahasiswa yang sering melakukan unjuk rasa. Ia berpesan agar mahasiswa lebih fokus belajar agar kelak bisa memperbaiki bangsa, bukan malah menjadi generasi yang banyak protes.
“Kalau anda cerdas, ajarin mereka ke depan jangan banyak protes, belajar aja gitu. Supaya anda nanti gak diprotes,” pesannya.
Baca juga : Purbaya, mengungkap potret buram kepemimpinan kepala daerah
Dengan latar belakang sebagai insinyur, Purbaya memberikan analogi menarik. Ia mengingatkan agar para cendekiawan tidak hanya melihat persoalan dari satu sisi atau “satu kabel” saja.
“Sebagai seorang engineer, tidak boleh melihat satu kabel saja, dia harus melihat seluruh rangkaian. Kalau satu komponen gagal, efeknya menjalar, dan tidak berhenti di satu titik saja,” jelasnya, menekankan pentingnya pendekatan holistik atau general equilibrium dalam mengambil keputusan.
Kisah Romantis di Balik Gelar PhD
Suasana akademis yang kaku sejenak mencair ketika Menteri Purbaya membagikan kisah pribadinya. Orasi politik kebangsaan yang disampaikannya selalu dibumbui humor segar yang mengundang gelak tawa hadirin. Salah satunya adalah alasan di balik kepindahannya dari teknik elektro ke dunia ekonomi.
“Jawaban akademisnya, saya ingin memahami sistem yang lebih besar. Jawaban sebenarnya, saya disuruh pacar saya dulu. Kalau nggak saya ambil PhD, dia nggak mau kawin sama saya. Jadi terpaksa lah. Tapi nggak apa-apa, kita nikmati keterpaksaan yang ada,” kisahnya, membagikan cerita romantis yang menginspirasi.
Optimisme Ekonomi Menuju Indonesia Emas
Di penghujung orasinya, Menteri Keuangan ini menyampaikan kabar baik mengenai prospek ekonomi nasional. Ia meyakinkan para generasi muda bahwa masa depan Indonesia cerah dan tidak perlu dirisaukan.
“Ekonomi kita akan tumbuh lebih cepat. Tahun ini mungkin mendekati 6%, tahun depan di atas 6% sampai akhirnya mendekati 8% seperti yang dijanjikan. Artinya, kita sedang betul-betul menuju arah Indonesia Emas. Jadi anda nggak usah takut dengan masa depan anda,” tukasnya penuh optimisme.
Dengan gaya khasnya yang santai, Purbaya sempat menawarkan lowongan kerja kepada para wisudawan. “Siapa yang mau kerja sama saya? Tadinya mau saya rekrut sebagai asisten pribadi, supaya pengetahuan kita bisa ditransfer ke generasi muda. Tapi yaudah nggak apa-apa,” kelakarnya disambut tawa, menutup sesi orasi yang penuh makna. (A)
