Jakarta, Mataconews – Wajah Taman Ismail Alami Perubahan Signifikan di Era Kepemimpinan Baru.
Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat, kembali menjadi sorotan. Setelah sempat mengalami revitalisasi besar-besaran di era gubernur sebelumnya, kini pusat kesenian itu merasakan sentuhan baru dari Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno.
Fenomena yang paling mencolok akhir-akhir ini adalah nuansa kemerahan yang terasa di berbagai sudut TIM. Bukan sekadar warna cat atau dekorasi, warna merah ini identik dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai yang mengusung pasangan Pramono-Rano dalam Pilkada Jakarta lalu.
Dari Ruang Kreatif Menuju Ruang Silaturahmi
Yang menarik, perubahan ini tampak jelas dalam suasana kegiatan di TIM. Belakangan, sejumlah acara seni dan budaya di Teater Besar TIM diwarnai dengan kehadiran para petinggi partai berlambang moncong putih tersebut.
Salah satunya terjadi pada Rabu (12/8/2026) malam, saat Festival Film Pendek digelar di Teater Besar TIM. Acara yang seharusnya menjadi ajang apresiasi karya sineas muda itu mendadak terasa berbeda dengan hadirnya sejumlah pimpinan anak cabang PDI-P Jakarta beserta jajaran keamanan partai.
Bahkan, kabar tentang rencana kehadiran politisi PDI-P, Wa Ode, yang juga anggota DPRD Jakarta, sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan panitia penyelenggara.
“Implisit, ini terlihat jelas bahwa ruang kreatif mulai bergeser menjadi ruang kepartaian dan silaturahmi politik,” ujar seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya.
Polemik di Kalangan Seniman
Tentu saja, perubahan atmosfer ini menuai reaksi beragam, terutama dari para seniman lintas generasi yang menjadikan TIM sebagai rumah berkarya. Mereka menyuarakan keprihatinan bahwa esensi TIM sebagai ruang kreatif murni mulai terkikis.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah semakin menjamurnya outlet bisnis modern di dalam kawasan TIM. Keberadaan kafe dan restoran dengan harga relatif mahal dinilai kurang ramah bagi para seniman yang lebih mengutamakan kualitas karya ketimbang urusan komersial.
Ruang kreatif seniman perlahan menuju pada kematiannya. Kita masih melihat ada seniman yang bertahan, tapi lebih pada aspek kuantitas, bukan kualitas. Begitu anda masuk, anda akan disapa oleh outlet bisnis modern seperti mal,” ungkap salah seorang seniman senior yang prihatin dengan kondisi terkini.
Revitalisasi: Antara Seni dan Bisnis
Pertanyaan besar pun muncul: apakah program revitalisasi TIM yang dulu dimulai era Anies Baswedan dan kini dilanjutkan Pramono Anung lebih mengedepankan aspek pendapatan daerah (PAD) dibandingkan sebagai wadah ekspresi seni?
Publik tentu bisa menilai sendiri dengan melihat langsung fenomena yang terjadi di pusat kesenian kebanggaan ibu kota ini. Wajah TIM yang kini lebih komersial dan kental dengan nuansa politik telah menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet dan penggiat seni.
Satu hal yang pasti: Taman Ismail Marzuki kini tak lagi sama. Apakah perubahan ini membawa angin segar bagi perkembangan seni budaya Jakarta, atau justru menenggelamkan jiwa kreatif yang selama ini menjadi denyut nadi TIM? Waktu yang akan menjawab.