Mataconews, Jakarta – Suasana seni dan sastra semakin semarak di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin menjadi saksi peluncuran buku antologi puisi berjudul Enam Simponi Aksara pada Kamis (23/7/2026).
Acara yang digelar dengan hangat ini tidak hanya sekadar peluncuran buku, tapi juga dimeriahkan dengan pertunjukan musikalisasi puisi dan pembacaan puisi yang menggugah jiwa. Para pecinta sastra dari berbagai komunitas turut hadir membanjiri ruangan.
Penampilan Memukau dari Para Penyair
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika deklamator Ical Vilgar membawakan puisi karya Irawan SW berjudul “Dengung Serangga”. Dengan eksplorasi vokal yang kaya dan penuh penghayatan, ia berhasil membuat para undangan terpukau dan larut dalam suasana.
Tak kalah memikat, penyair perempuan Rissa Churia juga menunjukkan kebolehannya di atas panggung. Sementara itu, Giyanto Subagio—penyair asal Senen yang dikenal melalui buku puisinya Kasidah Bayang-Bayang—turut menarik perhatian publik dengan gaya deklamasinya yang khas.
Diskusi Menarik: Antara Apresiasi dan Kritik
Namun, di balik gemerlap pertunjukan, sesi diskusi justru menjadi ajang dialog yang cukup panas. Beberapa peserta menyoroti ketidaksesuaian antara tema acara yang terkesan apresiatif dengan isi diskusi yang mengangkat persoalan mendasar.
Salah satu isu yang mengemuka adalah minimnya unsur literasi Betawi dalam kumpulan puisi yang diluncurkan. Hal ini dianggap cukup disayangkan mengingat acara digelar di pusat budaya Betawi, Jakarta.
Yang menarik perhatian, Ketua Komunitas Literasi Betawi (KLB), Syam Mukhtar Chaniago, justru diketahui berdarah Minang dari Sumatera Barat. Hal ini pun menjadi perbincangan hangat di kalangan peserta.
Beberapa kalangan menilai kondisi ini—jika bukan karena kurangnya pemahaman—setidaknya terkesan kurang peka terhadap kekayaan budaya lokal Betawi yang seharusnya turut diangkat dalam karya sastra.
Puisi Tetaplah Suara Jiwa
Meski menuai kritik, acara peluncuran buku Enam Simponi Aksara tetap patut diapresiasi. Bagaimanapun juga, puisi adalah cerminan jiwa dan zaman. Enam penyair yang terlibat dalam antologi ini telah menghadirkan simfoni kata yang indah, sesuai dengan konteks dan perasaan masing-masing saat menulis.
Semoga ke depan, kolaborasi sastra dan budaya lokal bisa lebih diperhatikan agar karya seni kita semakin kaya dan berpijak pada akar budaya setempat. (A)
Jakarta, MataConews – Praktik gelap di balik penyelenggaraan ibadah haji kembali menjadi sorotan. Wakil Menteri…
Mataconews - Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melontarkan pernyataan menohok terkait loyalitas partai politik.…
Mataconews, Jakarta – Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai acara Penganugerahan Pemenang Sayembara Kritik Sastra…
Jakarta, Nataconews - Presiden Prabowo Subianto secara blak-blakan mengungkapkan adanya praktik pemalsuan data, pemalsuan dagang,…
Mataconews - Jakarta. Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus),…
Mataconews – Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, ada kisah inspiratif dari seorang putra…