Mataconews – Kritik tajam terhadap Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, kembali dilontarkan oleh sejarawan senior, Anhar Gonggong. Bahkan, Anhar menilai bahwa Nadiem telah memiliki niat jahat dan berpotensi merusak sistem pendidikan Indonesia sejak sebelum resmi menjabat sebagai menteri.
Menurut Anhar, indikasi niat buruk tersebut terlihat dari komunikasi awal Nadiem dengan pihak Google sebelum dirinya dilantik menjadi Menteri Pendidikan.
Baca juga : JPU Fenomenal, Roy Riady, Menuntut Nadiem Makarim 18 Tahun Penjara
“Artinya Nadiem sudah mempunyai niat jahat, bekerja sama dengan Google. Logikanya itu dia belum menteri, tapi sudah membicarakan dengan Google. Apa haknya dia membicarakan itu? Itu sudah tindakan yang salah,” ujar Anhar dalam pernyataannya.
Anhar menegaskan bahwa seorang calon menteri seharusnya belum memiliki kewenangan untuk merancang kerja sama strategis dengan perusahaan asing sebelum resmi memangku jabatan. Ia pun mempertanyakan motif di balik langkah Nadiem tersebut.
“Kalau dia bukan siapa-siapa, kenapa mau bicara tentang hal itu? Kecuali kalau dia mau menyarankan, tapi ternyata tidak. Artinya dia tahu persis apa yang telah dilakukan menteri terdahulu, yang menyatakan hal itu tidak mungkin dilakukan,” tambahnya.
Sejarawan itu menduga ada permainan tertentu di balik kerja sama dengan Google, yang dinilainya merugikan negara.
Kerja Sama yang Merugikan Negara
Anhar menyebut bahwa kerja sama yang dimaksud tidak hanya merugikan negara dari segi materi—yang nilainya mencapai hampir 2 triliun rupiah—tetapi yang lebih parah adalah dampaknya terhadap sistem pendidikan nasional.
“Yang jelas permainannya merugikan negara. Tapi yang lebih penting bukan materi hampir 2 triliun itu, melainkan yang dirusak adalah pendidikan. Kalau pendidikan rusak, artinya berapa banyak anak dan murid yang kehilangan masa depan?” tegasnya.
Konteks dan Catatan Redaksi
Pernyataan Anhar Gonggong ini menjadi sorotan di tengah kebijakan Merdeka Belajar yang digencarkan Nadiem selama menjabat. Program seperti platform Merdeka Mengajar dan kerja sama dengan berbagai pihak swasta termasuk Google pernah menjadi bagian dari transformasi digital pendidikan.
Namun, menurut Anhar, niat awal yang keliru sejak sebelum menjabat bisa berdampak sistemik terhadap arah kebijakan pendidikan nasional. (A)