Jakarta

Realisme Sosial Menuju Eksistensialisme Jawa. Kosong

Berbagi and sharing

Mataconews, JakartaPusat Dokumentasi Sastra HB Jassin kembali menjadi ruang geliat sastra dan filsafat Nusantara. Dalam acara bertajuk “Dari Realisme Sosial Menuju Eksistensialisme Jawa”, tiga buku diluncurkan sekaligus: Mengapa Saya Berubah karya Yon Bayu Wahyono, Symphoni Kata Yang Berkarat karya Nanang Ribut Supriyatin, serta Kisah Di Toko Boneka Warna-warni karya Endah Wijayanti.

Kata-kata Bijak yang Berkarat

Acara dibuka dengan pembacaan puisi dari Dyah Puspo Indah, yang merupakan karya Nanang RS. Penulis Symphoni Kata Yang Berkarat itu kemudian menjelaskan makna di balik judul bukunya. Baginya, kata-kata bijak dan indah di ruang sosial saat ini telah mandul, beku, dan berkarat. Sebuah kritik tajam terhadap kebekuan bahasa dalam realitas sosial modern.

Mengosongkan Diri, Bukan Menjadi Kosong

Sorotan utama acara datang dari Yon Bayu Wahyono, penulis Mengapa Saya Berubah. Ia mengkritisi konsep “kosong” dalam eksistensialisme Barat. Menurutnya, istilah “kosong” bertentangan secara logika dengan “eksis” (ada).

“Eksistensialisme Barat berangkat dari kekosongan, padahal dalam filsafat Jawa, mengosongkan diri adalah proses aktif, bukan keadaan hampa,” paparnya.

Pemikiran ini mengingatkan kita pada debat filsuf Timur Tengah: Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, hingga Al Farabi tentang Being (Ada) dan Nothing (Tiada). Para ilmuwan pun cenderung menyimpulkan bahwa di alam semesta tidak ada ruang yang benar-benar kosong. Yang ada adalah ruang yang eksis.

Yon Bayu menegaskan bahwa “mengosongkan” berbeda secara fundamental dengan “kosong”. Perbedaan ini penting dalam pengambilan keputusan berpikir.

Eksistensialisme Personal vs Universal

Menurut Yon Bayu, pengalamannya melakukan perjalanan ke Kalimantan setelah bergulat dengan realitas sosial membawanya pada pemahaman baru: Eksistensialisme Jawa adalah subjektivitas individual, bukan universal.

Hal ini tercermin dari pilihan kata “Saya” dalam judul bukunya, yang bersifat intim dan personal. Sangat berbeda dengan “Aku” dalam puisi Chairil Anwar yang menghadirkan subjektivitas universal.

“Eksistensialisme Jawa yang sesungguhnya adalah eksistensialisme personal, bukan universal seperti Aku-nya Chairil Anwar,” tegasnya.

Penutup

Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ajang literasi, tetapi juga ruang untuk merenungkan ulang makna “ada” dalam kacamata lokal. Bagi Anda yang tertarik dengan persilangan filsafat Barat dan Timur dalam sastra Indonesia, tiga buku ini layak masuk daftar bacaan.

Admin Matacon

Recent Posts

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak, Ungkap Dugaan Kartel Haji Dan Praktik Mafia Haji

Jakarta, MataConews – Praktik gelap di balik penyelenggaraan ibadah haji kembali menjadi sorotan. Wakil Menteri…

18 jam ago

Pramono Anung Sindir Politikus Pindah Partai: “Tak Akan Pernah Jadi Besar!”

Mataconews - Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melontarkan pernyataan menohok terkait loyalitas partai politik.…

2 hari ago

Sayembara Kritik : “Lemahnya Ekosistem Seni Dalam Ruang Apresiasi

Mataconews, Jakarta – Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai acara Penganugerahan Pemenang Sayembara Kritik Sastra…

5 hari ago

Peluncuran Buku Enam Simponi Aksara Telah Menampar Wajah Literasi Betawi ?

Mataconews, Jakarta – Suasana seni dan sastra semakin semarak di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta…

5 hari ago

Presiden Prabowo Subianto, Singkap Tabir Kepalsuan Ekonomi

Jakarta, Nataconews - Presiden Prabowo Subianto secara blak-blakan mengungkapkan adanya praktik pemalsuan data, pemalsuan dagang,…

1 minggu ago

Kental Kekuasaan. Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tidak Ditahan

Mataconews - Jakarta. Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus),…

1 minggu ago