Nasional

Kritik Pedas soal Sensor Media Sosial: Isu Palestina Langsung Hilang, Hoax Dalam Negeri Dibiarkan?

Berbagi and sharing

MATACONEWS – Jakarta. Sebuah pernyataan kritis dilontarkan terkait praktik sensor dan moderasi konten di platform media sosial. Keluhan ini menyoroti ketidakseimbangan penanganan antara konten yang mendukung isu Palestina dengan penyebaran hoax di dalam negeri.

“Tapi kemarin saya pasang foto saya ketika saya di Palestina. Cepat sekali langsung dihilangkan, Pak. Oke, itu distribusinya, Pak,” ujar sumber dalam pernyataannya, Sabtu (28/10). Ia mempertanyakan mengapa konten terkait Palestina langsung ditindak, sementara hoax di dalam negeri kerap dibiarkan berlama-lama.

Baca juga : Program MBG, BGN Memberikan persyaratan Kepada Mitra SPPG

“Bukan distribusinya, kenapa bagi sebuah isu-isu tertentu, self-censorship dilakukan. Tapi bagi hal-hal yang memang mengganggu di Indonesia, baik itu hoax terkait kesehatan, hoax terkait pemerintahan, hoax yang mengadu domba masyarakat terkait SARA, itu kenapa lama? Tapi kalau urusan Palestina langsung hilang tuh,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kurangnya transparansi dari platform digital terkait jumlah pengguna dan algoritma yang digunakan. “Kenapa bisa seperti itu? Apa penjelasannya? Apa keberpihakannya terhadap pengguna kita? Berapa pengguna di sini? Itu juga kita nggak pernah dapat, Pak. Saya selalu tanya, kita berapa sih? Kenapa kami pun tidak bisa tahu pengguna? Kan secara teknologi semua terdata, Pak. Itu algoritma pun sampai sekarang nggak bisa dibuka. Setiap negara akan melakukan caranya masing-masing, Pak.”

Ketimpangan Moderasi Konten

Pernyataan ini memicu perdebatan tentang bagaimana platform media global menerapkan kebijakan moderasi konten di Indonesia. Di satu sisi, konten solidaritas Palestina kerap dianggap sensitif dan cepat dihapus. Di sisi lain, hoax yang meresahkan masyarakat lokal seringkali membutuhkan waktu lebih lama untuk ditangani.

Pertanyaan tentang transparansi algoritma dan jumlah pengguna juga menjadi sorotan. Banyak pihak mendesak platform digital untuk lebih terbuka, mengingat dampak besar media sosial terhadap opini publik dan ketahanan informasi nasional.

Imbauan untuk Keadilan Digital

Pengamat media sosial menilai perlunya keseimbangan dalam moderasi konten. “Platform harus konsisten. Jika ingin menegakkan aturan, lakukan secara adil untuk semua jenis konten, baik yang berskala internasional maupun domestik,” ujar salah satu pengamat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak platform media sosial yang dimaksud belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik t Buersebut. (A)

Admin Matacon

Recent Posts

Anggota DPRD Jakarta Wa Ode Herlina Didesak Jawab Polemik Pengurus AJ-DKJ, Pilih Menghindar saat Reses di Kemayoran

JAKARTA — Fenomena politik Jakarta kembali mewarnai ruang publik di Kelurahan Harapan Mulia, Kecamatan Kemayoran,…

14 jam ago

Bank BJB Diduga Beri Kredit Jaminan Sertifikat Tanah Tanpa Izin Pemilik, Istri Kaget Suami Pinjam Uang Pakai Sertifikat Miliknya

Banten - Dugaan pelanggaran prosedur perbankan kembali mencuat ke publik. Bank BJB (Bank Pembangunan Daerah…

2 hari ago

Quo Vadis AJ-DKJ? Polemik Kepemimpinan dan Gugatan Hukum Mewarnai Diskusi Terbuka

Jakarta – Isu kepemimpinan di Akademi Jakarta (AJ) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali mencuat…

4 hari ago

Malam Puncak HUT RI Ke-81 di RW 01 Kemayoran: Antusiasme Warga Tereduksi oleh Teknis Acara

Jakarta, Mataconews – Semarak peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 masih terasa di berbagai penjuru…

2 minggu ago

Mengenang Masa Lalu, RW 01, Gelar Hiburan Layar Tancap

Jakarta, Matacones.com – Dalam rangka memperingati satu abad kemerdekaan Indonesia atau HUT Kemerdekaan RI ke-81,…

3 minggu ago

Pejabat Sidak Tanpa Bertindak, Ruang Publik Disikat

Mataconews - Jakarta — Keluhan warga soal menyempitnya ruang publik di RW 01 dan RW…

3 minggu ago